Di era bisnis yang menuntut kecepatan, proses talent assessment juga harus beradaptasi. Menurut Lyra Puspa, President dan Founder Vanaya & Companies, masa depan assessment bukan menggantikan metode lama, melainkan mengintegrasikan behavioral assessment, assessment kompetensi, dan neurometrik dalam satu sistem yang lebih komprehensif.
“Yang kami lakukan adalah mengawinkan behavioral assessment, assessment kompetensi, dan neurometrik menjadi satu portal yang lengkap,” ujar Lyra dalam sebuah seminar.
Ia menjelaskan, AI tidak hanya berfungsi mempercepat proses, tetapi juga membantu mengolah data dalam jumlah besar sehingga menghasilkan insight yang lebih kaya dan akurat. Dengan pendekatan ini, laporan individu dapat diperoleh dalam waktu singkat, sementara analisis organisasi dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari.
Namun, Lyra menegaskan bahwa assessment bukan alat untuk memberi cap seseorang layak atau tidak layak. Menurutnya, hasil assessment seharusnya digunakan untuk melihat tingkat kesesuaian seseorang terhadap kebutuhan peran dan organisasi.
“Saya tidak mengatakan seseorang tidak cocok. Yang lebih tepat adalah not yet suitable. Karena otak manusia bisa berkembang dan dilatih,” katanya.
Bagi Lyra, nilai terbesar AI bukan sekadar kecepatan, melainkan kemampuannya membantu organisasi mengambil keputusan pengembangan talenta yang lebih objektif, tepat sasaran, dan berbasis data.