Intipesan Network

Mengelola Perubahan Tanpa Drama

Perubahan hampir selalu memunculkan resistensi. Namun menurut Zulkifli Zaini, tantangan terbesar bukanlah penolakan, melainkan bagaimana pemimpin membangun kepercayaan dan memastikan perubahan berjalan konsisten. Hal itu disampaikannya dalam seminar The Art of Turn Around yang diselenggarakan Intipesan di Jakarta pekan lalu.

“Kalau kita melakukan perubahan, sudah pasti kita menghadapi tiga kelompok. Yang langsung setuju sekitar 20 persen, yang menolak 20 persen, dan yang ragu-ragu 60 persen,” ujarnya.

Karena itu, menurut mantan Direktur Utama PLN dan Bank Mandiri tersebut, pemimpin sebaiknya fokus merangkul mereka yang mendukung dan meyakinkan kelompok yang masih ragu, bukan menghabiskan energi menghadapi penolak.

Zulkifli juga menegaskan pentingnya keteladanan. Integritas, perilaku sehari-hari, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan akan selalu menjadi perhatian karyawan.

Saat membahas transformasi bisnis, ia menekankan bahwa perbaikan perusahaan tidak membutuhkan teori yang rumit. “Ini bukan rocket science. Naikkan revenue, turunkan cost, dan jaga likuiditas,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan organisasi lahir dari disiplin menjalankan hal-hal mendasar, mulai dari meningkatkan produktivitas hingga memastikan target tercapai. Bahkan, ia pernah menghapus kolom “keterangan” dalam laporan kinerja yang berisi alasan kegagalan mencapai target.

“Target adalah janji. Janji adalah hutang,” tegasnya.

Bagi Zulkifli, keberhasilan perubahan tidak ditentukan oleh banyaknya alasan atau strategi yang rumit, melainkan oleh kemampuan organisasi mengeksekusi hal-hal sederhana secara disiplin dan konsisten.