Intipesan Network

Seni Mengelola Krisis Sebelum Menjadi Krisis

Di era digital, sebuah isu kecil bisa berkembang menjadi krisis besar dalam waktu singkat. Karena itu, kemampuan mendeteksi dan mengelola potensi masalah sejak dini menjadi salah satu keterampilan penting bagi praktisi komunikasi.

Menjawab pertanyaan tentang langkah yang perlu dilakukan ketika muncul isu berskala kecil yang belum viral, GM Corporate Communications Telkomsel, Isti Ayu Sofiyanti, menekankan pentingnya monitoring sebagai langkah awal.

“Kalau memang isunya masih kecil, cukup monitoring dulu,” ujarnya.

Menurut Isti, tantangan terbesar sering kali bukan berasal dari publik, melainkan dari internal perusahaan. Bahkan, tidak jarang pimpinan perusahaan lebih khawatir dibandingkan respons yang muncul di masyarakat.

“Kadang yang lebih panik itu BOD-nya ketimbang netizen,” katanya.

Karena itu, tim komunikasi perlu menyajikan analisis berbasis data, mulai dari volume percakapan, sentimen, sumber isu, hingga jangkauannya. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah sebuah isu cukup dipantau atau perlu segera ditindaklanjuti.

Isti menegaskan bahwa monitoring bukan berarti diam. Sebaliknya, perusahaan tetap harus waspada dan terus mengamati perkembangan situasi sebelum mengambil langkah yang tepat.

“Isu kecil tetap harus kita aware. Bukan berarti diam, tetapi kita berpikir secara matang tentang apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa dalam komunikasi krisis, respons yang tepat tidak selalu berarti respons yang paling cepat. Sering kali, keputusan terbaik lahir dari ketenangan, pemantauan yang cermat, dan analisis yang berbasis fakta.