Keberhasilan membangun reputasi perusahaan tidak selalu diukur dari tingginya jumlah pengikut di media sosial atau banyaknya percakapan di ruang digital. Bagi perusahaan dengan model bisnis business-to-business (B2B), pendekatannya justru bisa jauh lebih sederhana dan terarah.
Hal itu disampaikan oleh Fardila Astari, Measurement and Communications Strategist di Reputasia Strategic Communications Consulting saat menjawab pertanyaan peserta mengenai perbedaan indikator keberhasilan reputasi antara sektor B2B dan B2C.
Menurut Fardila, perusahaan B2B tidak harus mengikuti tren komunikasi yang dilakukan brand B2C. Yang terpenting adalah memahami di mana target audiens dan pemangku kepentingan mereka berada.
“Di perusahaan B2B tempat saya bekerja sebelumnya, pimpinan tidak pernah meminta tim komunikasi fokus mengelola Instagram atau media sosial. Alasannya sederhana, stakeholder bisnis kami memang tidak berada di sana,” ujar Fardila.
Ia menjelaskan, pengukuran reputasi di sektor B2B lebih banyak dilakukan melalui aktivitas yang spesifik dan terukur, seperti tingkat kehadiran dalam forum bisnis, breakfast meeting, atau pertemuan dengan komunitas dan asosiasi. Dari sana, perusahaan dapat mengevaluasi tingkat keterlibatan dan minat para mitra bisnis terhadap program yang dijalankan.
Berbeda dengan B2C yang memiliki audiens sangat luas dan tersebar di berbagai wilayah, pengelolaan komunikasi B2B cenderung lebih fokus. Pendekatan yang dilakukan tidak menggunakan “semua kanal sekaligus”, melainkan memilih media dan komunitas yang benar-benar relevan dengan target.
“Jangan menembak nyamuk pakai bazoka. Kita harus tahu siapa target audiensnya, komunitas atau asosiasi mana yang ingin kita dekati, lalu fokus membangun engagement di sana,” kata Fardila.
Ia juga menilai bahwa meskipun membangun relasi di sektor B2B tidak mudah, proses pengelolaan dan pemeliharaan reputasinya justru relatif lebih sederhana dibandingkan B2C. Ketika terjadi krisis, komunikasi dapat dilakukan secara langsung dan personal kepada para mitra bisnis, sehingga risiko kehilangan kepercayaan dapat diminimalkan.
Bagi Fardila, kunci utama dalam mengukur reputasi bukan terletak pada banyaknya kanal komunikasi yang digunakan, melainkan pada sejauh mana strategi yang dijalankan benar-benar menjangkau dan membangun hubungan dengan stakeholder yang tepat.