AI sedang jadi topik besar di HR. Banyak organisasi berlomba mengadopsi, tapi tidak sedikit yang berhenti di meja direksi. Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada satu hal yang sering terlewat: use case yang jelas.
Seperti disampaikan Maulidin Pamur Dhani, Vice President People Journey and Enabler Management Telkomsel, nilai teknologi selalu ditentukan oleh relevansinya terhadap masalah bisnis. Tanpa itu, AI hanya menjadi ambisi yang mahal. Dengan kata lain, ketika HR tidak bisa menjelaskan dampaknya secara konkret, maka AI sulit dilihat sebagai investasi yang layak.
Ia bahkan mengingatkan secara lugas,
“Kalian boleh punya teknologi yang cantik, tapi jangan sampai tidak punya use case.” jelasnya.
Pesan ini menegaskan bahwa perusahaan tidak mencari solusi yang sekadar terlihat canggih, tetapi yang benar-benar bekerja di operasional sehari-hari.
Selama ini, banyak pendekatan masih terjebak pada fitur—otomatisasi, dashboard, atau analitik. Padahal, yang dicari bisnis adalah hasil. Bukan apa yang sistem bisa lakukan, tetapi apa yang berubah setelah digunakan. Secara tidak langsung, ini menunjukkan bahwa cara menjual AI perlu diubah: dari menjual kecanggihan menjadi menjual solusi.
Perbedaannya terasa jelas. Mengatakan “kita punya AI untuk screening kandidat” terdengar biasa. Namun ketika diubah menjadi “kita bisa memangkas waktu rekrutmen hingga 30%,” nilainya langsung terlihat.
Pada akhirnya, use case adalah jembatan antara teknologi dan dampak bisnis. Tanpa itu, AI hanya akan menjadi tren yang lewat. Dengan itu, AI bisa menjadi alat strategis yang benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena di dunia bisnis, yang dicari bukan kecanggihan—melainkan hasil.