Tantangan terbesar transformasi HR sering kali bukan penolakan karyawan, melainkan keraguan dari jajaran direksi. Keberhasilan perubahan justru ditentukan oleh kemampuan membereskan hal mendasar di bawah sekaligus meyakinkan manajemen puncak.
Rizka Moeslichan, Director of Human Resources and Legal at PT ASABRI (Persero), mengungkapkannya dalam seminar 4th HRBP Summit minggu lalu di Jakarta bahwa langkah awal harus dimulai dari empati. Saat membenahi struktur gaji dan jenjang karier yang sempat stagnan, ia berhasil meraih kepercayaan tim.
“Secara manusiawi, begitu kita benahi hal dasar seperti struktur gaji dan karier, kita langsung mendapatkan hati mereka,” ujarnya.
Namun, ujian terberat adalah managing up—meyakinkan para petinggi yang mayoritas tidak berlatar belakang HR. Untuk menembus ruang direksi, narasi kualitatif tak lagi cukup.
“Segala sesuatu harus bisa diterjemahkan ke dalam istilah finansial. Itu kuncinya. Kalau kita tidak bisa bicara dengan bahasa keuangan di tingkat board, langkah kita akan sangat berat,” tegas Rizka.
Perubahan dari Human Resources menjadi Human Capital menuntut bukti nyata berupa data dan angka. Ketika dampak kebijakan HR terukur secara finansial dan kebutuhan dasar karyawan terpenuhi, barulah transformasi dapat berjalan mulus di seluruh tingkatan perusahaan.