Komitmen Karyawan Tumbuh
dari Budaya Kerja dan Kesejahteraan
Julie Chow
(Group Chief Human ResourcesOfficer at FWD Insurance, HongKong)
Recent News
-
Transformasi Manusia: Kunci Sukses L&D di Era Digital
-
Bukan Sekadar Training Mengapa L&D Harus Bicara Bahasa Bisnis
-
Leader vs Manajer Operasional: Apa Bedanya?
-
Dilema Skor Tinggi: Menyeimbangkan Performa dan Realitas Bisnis
-
Seni Transformasi Kepemimpinan: Menembus Batas Spesialisasi
-
Stop Micromanaging Gen Z.
Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin cepat dan penuh tuntutan, perusahaan ditantang untuk tidak hanya mengejar kinerja, tetapi juga memastikan kesejahteraan karyawan. Bagi Julie Chow, Group Chief Human Resources Officer FWD Insurance, Hong Kong, kesejahteraan bukan sekadar program tambahan, melainkan fondasi utama untuk membangun komitmen karyawan.
“Setiap orang itu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Karena itu, kami mendesain program kesejahteraan dengan pendekatan personalisasi,” jelas Julie.
Pendekatan personalisasi ini dimulai dengan mengumpulkan data dan profil karyawan, lalu menyesuaikan program sesuai kebutuhan mereka. Jika awalnya program masih bersifat umum, kini FWD semakin mengarahkannya pada kelompok spesifik, seperti ibu bekerja atau karyawan dengan kondisi keluarga tertentu. Dengan begitu, setiap individu merasa benar-benar diperhatikan.
Selain personalisasi, Julie menekankan pentingnya budaya kerja yang sehat dan inklusif. Ia menyarankan perusahaan melakukan survei setidaknya tiga kali dalam setahun untuk mengukur 14 aspek penting, mulai dari kesejahteraan, beban kerja, keberagaman, hingga budaya organisasi. Hasil survei ini tidak berhenti pada angka semata, melainkan langsung ditindaklanjuti oleh para manajer agar tercipta perbaikan nyata dalam pengalaman kerja karyawan.
“Budaya dan kesejahteraan saling terkait. Dengan pengukuran yang tepat, kita bisa memastikan setiap karyawan merasa diperhatikan sesuai kebutuhannya,” tutup Julie.
Recent Programs
- All Posts
- Program Seminar


