Intipesan Network

Dilema Skor Tinggi:
Menyeimbangkan Performa dan Realitas Bisnis

Tantangan terbesar dalam manajemen performa muncul saat mayoritas karyawan meraih skor tinggi, namun kondisi finansial perusahaan sedang tidak ideal. Di sinilah metode Bell Curve atau Force Ranking kerap menjadi solusi untuk menjaga distribusi nilai tetap realistis.

Adam Armansyah, Associate Client Partner di Korn Ferry dalam sesinya di Employee Performmance Management pada Rabu (25-26/2) di Jakarta, menjelaskan bahwa meski bukan kewajiban hukum, metode ini efektif mencegah penumpukan nilai tinggi yang tidak proporsional. Namun, kuncinya terletak pada kejujuran pemimpin sejak awal. Adam menekankan agar atasan tidak terburu-buru memberikan harapan palsu kepada tim.

    “Intinya, jangan pernah kita menjanjikan sesuatu kepada tim,” tegasnya terkait skema reward.

Baginya, pimpinan harus transparan bahwa penilaian awal masih memerlukan tahap kalibrasi di tingkat direksi demi keselarasan target besar organisasi.

Selain angka, efektivitas penilaian sangat bergantung pada budaya keterbukaan. Jarak fisik antar cabang bukan hambatan selama jalur komunikasi mengalir baik. Sebaliknya, pimpinan yang menutup diri justru menghambat solusi atas kendala nyata di lapangan. Terakhir, Adam mengingatkan agar aspek kualitatif seperti budaya perusahaan tidak menggeser parameter kinerja utama.

    “Bukan berarti aspek kualitatif tidak boleh, tapi tolong jangan dijadikan parameter utama,” pesannya.

Melalui transparansi dan observasi mendalam, sistem penilaian akan tetap adil, terukur, dan bebas dari bias subjektif.