Di era digital, reputasi perusahaan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apa yang dibangun selama belasan bahkan puluhan tahun bisa terguncang hanya dalam hitungan menit akibat derasnya arus informasi yang beredar tanpa proses verifikasi yang memadai. Fenomena homeless media atau new media membuat siapa pun dapat menjadi sumber informasi, terlepas dari akurasi maupun kredibilitasnya.
Menurut Arif Mujahidin, Corporate Communications Director Danone Indonesia, banyak narasi yang beredar saat ini lebih berorientasi pada perolehan perhatian dan engagement daripada kebenaran informasi itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa perusahaan tidak boleh terjebak mengikuti narasi yang tidak autentik hanya demi merespons tekanan publik.
“Ketika kita dipaksa masuk ke dalam narasi yang bukan milik kita, biasanya hasilnya justru tidak baik untuk kredibilitas perusahaan,” jelasnya.
Dalam situasi krisis, Arif menilai perusahaan perlu mengedepankan ketenangan dan disiplin terhadap protokol komunikasi. Alih-alih sibuk membela diri, organisasi sebaiknya melibatkan pihak-pihak yang memiliki kredibilitas dan kepercayaan publik.
“Cari orang yang kredibel untuk ngomong, stakeholders. Karena omongan pihak ketiga itu akan lebih kuat dibandingkan kita yang kelihatan seperti sedang melakukan self-defense,” ujarnya.
Pendekatan ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih objektif dan memiliki daya pengaruh yang lebih besar dibandingkan komunikasi yang datang langsung dari perusahaan.
Lebih jauh, Arif menekankan bahwa reputasi yang kuat berakar pada hubungan yang dibangun secara konsisten dalam jangka panjang. Kepercayaan tidak muncul saat krisis terjadi, melainkan sudah ditanam jauh sebelumnya melalui relasi yang tulus dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, media, regulator, hingga komunitas.
Menurutnya, dunia profesional sebenarnya sangat kecil. Reputasi pribadi dan tingkat kepercayaan yang kita bangun akan terus melekat, bahkan ketika berpindah organisasi atau jabatan.
Pada akhirnya, di tengah karakteristik Gen Z yang serba cepat, visual, dan dinamis, fondasi reputasi tetap tidak berubah: integritas, konsistensi, dan kemampuan menjaga hubungan dengan orang-orang yang memiliki kredibilitas. Karena dalam komunikasi korporat, kepercayaan bukan sekadar aset pendukung, melainkan modal utama yang menentukan keberlangsungan reputasi sebuah organisasi.